Home » Review Game Way Out Multiplayer Tiada Serunya

Review Game Way Out Multiplayer Tiada Serunya

Walaupun berdiri di bawah bendera EA sebagai publisher, A Way Out tidak serta-merta menggunakan teknologi engine milik DICE – Frostbite Engine yang secara visual, memang memesona. Masih berstatus sebagai developer ketiga, developer ini akhirnya menjatuhkan pilihan pada Unreal Engine 4 sebagai basis untuk menciptakan game yang pendekatannya memang diarahkan pada satu hal ini – menciptakan pengalaman paling sinematik yang bisa mereka tawarkan ke permukaan.

Karena berbeda dengan game kebanyakan yang hanya harus memikirkan satu sudut pandang saja, game multiplayer ini harus menangani perspektif dua karakter secara bersamaan. A Way Out menanganinya dengan cukup baik. Bergerak secara real-time dengan membaca pergerakan setiap karakter yang ada, sebagian besar gameplay memang akan dinikmati dalam format split-screen.

Ia dipresentasikan dalam format vertikal ataupun horizontal, tergantung sekuens gameplay seperti apa yang tengah Anda nikmati. Yang menarik? Terlepas dari fakta bahwa perhatian Anda akan selalu terbagi, ia mengeksekusinya dengan sangat manis. Audio hanya meluncur dari bagian yang memang esensial pada cerita dengan dialog yang dibuat lebih dominan, scene penting terkadang langsung merebut porsi layar secara penuh, aksi pertempuran yang dilakukan bersama digunakan dengan layar bergabung, dan ia juga membuka ruang kreatif bagi tata cara perpindahan kamera yang diimplementasikan dengan manis di salah satu bagian cerita. Tidak ada keluhan di sini.

Namun juga harus diakui, sebagai game generasi terkini, kualitas visualisasi A Way Out bukanlah sesuatu yang pantas untuk mengundang decak kagum. Ia cukup untuk menghadirkan karakter yang bisa Anda percayai dengan voice acts yang pantas untuk diacungi jempol, tetapi di sisi lain, tidak bisa dibilang memesona. Bahkan di beberapa titik permainan, terutama pada saat sisi aksi dimana Leo atau Vincent harus mengangkat senjata dan menembak, baik di kendaraan ataupun saat aksi third person shooter, animasinya masih terhitung kaku dan tidak nyaman. Selain itu, ada beberapa aksi dan efek yang seolah menyiratkan kuat posisi Hazelight sebagai developer dengan budget yang tidak besar. Tetapi tentu saja, terlepas dari semua kekurangan itu, pengalaman Anda mencicipi A Way Out tidak lantas akan tercederai.

Klik Disini :

1. 14 Game Offline Terbaik Gratis di Smartphone Android

2. 15 Game Online PC Ringan Bisa Dimainkan

Satu hal yang kami temukan menarik adalah bagaimana game ini mengambil referensi dari beberapa film populer sebagai easter egg, atau sebagai inspirasi, terlepas dari apakah itu sengaja atau tidak disengaja. Sebagai contoh? Ketika scene mereka melapisi atap penjara dengan minyak yang bagi gamer yang sudah sempat menonton Shawshank Redemption, akan terasa begitu familiar. Apalagi ketika Leo tiba-tiba berbicara soal bir dingin yang ia sebut akan mencerahkan hari para tahanan, yang notabene juga terjadi di Shawshank. Atau ketika proses pergantian kamera di salah satu scene yang berakhir membuat Leo kini harus beraksi dalam format side-scrolling, sembari bertarung, dari kiri dan kanan. Bagi yang sudah sempat menikmati Oldboy, referensinya sepertinya terasa jelas, terlepas apakah ia disengaja atau tidak. Melihat begitu banyak easter egg atau homage pada film-film populer ini tentu tidak mengherankan mengingat Josef Farez – otak di balik A Way Out ini, memang seorang sutradara film.

Dengan kualitas visualisasi yang berada di atas rata-rata namun tidak terlalu memesona, kualitas voice acting yang pantas untuk diacungi jempol, dan easter egg scene film-film populer yang ada, A Way Out juga hadir dengan posisi kamera yang membuatnya selalu tampil sinematik di beragam scene yang ada, baik sekedar eksplorasi, cerita, hingga aksi. Kualitas yang bahkan cukup untuk membuat Anda ingat dengan apa yang berusaha dilakukan Naughty Dog di judul-judul terakhir mereka. Semuanya disajikan tetap, dalam format split-screen.

Multiplayer Tiada Dua

Seperti yang kita bicarakan sebelumnya, Hazelight menyuntikkan sebuah mekanisme unik di A Way Out. Bahwa satu-satunya cara untuk menikmati game ini, adalah Anda harus memainkannya bersama dengan teman Anda. Tidak ada AI di sini, tidak ada pula proses match-making, Anda harus memainkannya bersama dengan orang yang sudah Anda kenal sebelumnya, baik secara offline ataupun online. EA juga menawarkan satu strategi lain yang akan kami bahas nantinya, yang di mata kami, memperkuat nilai jual A Way Out itu sendiri.

Maka dengan satu kontroler memainkan Leo dan satu lainnya memainkan Vincent, Anda berhadapan dengan sebuah game multiplayer yang akan meminta Anda untuk saling mengandalkan satu sama lain, untuk mencapai satu objektif yang sama. Namun tidak seperti game kooperatif yang selalu berakhir menawarkan puzzle untuk memaksimalkan fitur ini, A Way Out mengimplementasikanya di semua sektor yang ada, termasuk sisi eksplorasi, cerita, hingga aksi itu sendiri.

Untuk seri aksinya sendiri, sepertinya tidak sulit untuk membayangkan game third person shooter co-op yang dengan mudah Anda temukan di game terkini. Sementara untuk puzzle? Seperti yang diprediksi, memaksa Anda untuk saling bahu-membahu untuk menangani satu masalah serupa. Maka Anda akan diminta untuk mengawasi penjaga saat tengah membongkar toilet penjara saat kabur, memanjat celah dengan memunggungi satu sama lain dengan kebutuhan untuk menekan tombol di timing yang tepat, hingga sekedar berkolaborasi untuk menangkap ikan dengan menggunakan tombak. Ada puzzle yang menuntut presisi tekan tombol, puzzle yang menawarkan ketegangan lewat terbatasnya waktu, hingga sekedar mencari jalur alternatif untuk mengalihkan perhatian sipir penjara, misalnya. Semuanya dieksekusi dengan sekedar menekan tombol-tombol sederhana.

Yang menarik, adalah fakta bahwa konsep ini juga dibawa A Way Out ke sisi eksplorasi pula. Ketika misi meminta Anda untuk mencari seseorang atau mengumpulkan informasi misalnya, Anda bisa berpencar untuk memastikan wilayah pencarian yang lebih luas. Tidak ada keharusan atau paksaan bahwa Anda harus “terkunci” bersama dan berakhir melakukan hal serupa. Menarik untuk melihat bagaimana Anda harus berkomunikasi satu sama lain untuk memastikan Anda tidak menginterogasi orang yang sama, dua kali misalnya. Konsep unik ini juga diimplementasikan di sisi cerita pula. Alih-alih memotong cut-scene dan berfokus hanya pada satu karakter saja, sebagian cerita mengalir dengan tetap mempertahankan format split-screen. Jika satu karakter punya jalinan cerita yang harus dipicu, maka karakter lain biasanya bebas untuk melakukan hal apapun yang mereka inginkan. Sebuah pendekatan yang keren dan uniknya, terasa begitu natural.

admin7

Kembali ke atas